Naraya
Naraya terdiam sejenak setelah membaca tulisan pada kertas tersebut, gadis itu pasrah dan sedih saat sebuah kebenaran kembali menusuk hati. Pak Sarwo yang melihat ekspresi sedih di wajah Naraya segera mendekat dan mengambil kertas yang masih berada di tangan gadis itu. Pak Sarwo juga memberikan respon yang sama setelah membacanya. Namun keduanya berupaya bersikap normal setelahnya, mereka mendapatkan akhir yang sangat tidak logis.
Keesokan harinya Naraya bangun lebih awal dari biasanya, membuka pintu jendela kamar dan membiarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam kamarnya. Suasana masih sangat sepi dan Naraya merasa kesepian. Gadis itu menyeka air mata yang mengalir di sudut matanya dan membiarkan dirinya tenggelam sejenak pada lamunan tentang kejadian semalam yang menurutnya tidak logis hal yang sama dirasakan oleh Pak Sarwo saat mebaca surat tersebut.
Naraya akhirnya mengetahui situasi sebenarnya dan dirinya adalah bagian terburuk adalah selama dirinya belum menyerah pada asal keberadaanya yakni sekte sesat yang pernah di percayai kedua orang tuanya maka sang ibu tidak akan kembali. Situasi yang ibarat makan buah simalakama ini tidak dapat menguap sedemikian saja. Maka Naraya akan memikirkan cara lain untuk membatalkan perjanjian tersebut jika memungkinkan.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
