Naraya
Naraya menarik kursi rotan dengan hiasan mahkota pada bagian atasnya, mengambil cangkir keramik asli buatan cina dan menuangkan teh hangat. Gadis itu memasukkan dua sendok teh gula pasir lalu mengaduknya dengan pelan. Naraya menghirup aroma teh pergunungan hasil perkebunannya sendiri, senyum manis sepintas merekah di bibirnya yang merekah. Naraya merasa senang untuk pertama kalinya setelah tiga tahun terakhir, semenjak perjalanan mereka mengungkap kisah kehidupan Naraya.
Naraya melihat kilas balik perjalanan panjang dirinya dan Pak Sarwo, misteri kematian ayahnya yang sampai detik ini tak berhasil diungkap. Suara langkah kaki menyadarkan Naraya untuk bangkit menyadari posisinya yang membelakangi pintu masuk sehingga kesulitan melihat siapa yang datang. Beberapa orang memasuki dapur dengan sopan meminta izin kepada Naraya, ternyata beberapa pekerja perempuan singgah ke dapur untuk sarapan.
Naraya hendak bangkit agar memberikan ruang yang cukup kepada pekerja perempuan, namun Pak Sarwo masuk ke dapur dengan tergesa-gesa. Laki-laki paruh baya itu mengajak Naraya ke ruangan lain, ada hala penting yang ingin diperlihatkan. Gadis itu nampak ragu, namun kecemasan di wajah Pak Sarwo membuatnya yakin perihal yang akan disampaikan adalah hal terpenting yang menyangkut kehidupan dirinya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
