Naraya
Naraya dan beberapa orang yang tersisa akhirnya mengambil keputusan bahwa mereka akan menghancurkan segala benda termasuk ruangan tempat pemujaan secara bersama-sama. Mereka layaknya seperti orang mengamuk dan bergerak membabi buta menghancurkan apa saja yang ada di sekitar ruangan tersebut. Semuanya hancur nyaris tak ada satupun yang tersisa dan Naraya merasa sangat puas dengan mengetahui tempat berbahaya tersebut hancur.
Gadis itu berdiri tepat di bawah lukisan besar wanita yang menggunakan pakaian serba hitam dengan sepatu hitam namun pada bagian wajahnya hanya sebagian yang terbuka, meninggalkan sepasang mata besar dengan tatapan yang tajam. Naraya membawa rekan-rekannya keluar dari ruangan pemujaan saat mereka merasakan gempa dari cikal bakal kehancuran goa tersebut sebab penopang ruangan atau tongak rumah gadang tidak boleh dipaku.
Mereka keluar dari goa yang materialnya terus berjatuhan akibat tiang penyangga yang tersenggol tadi. Berpegangan satu sama lain dan berjalan berisama. Mereka hanya tinggal segelintir sehinga mengurungkan niat untuk melakukan aktivitas lain. Mereka keluar bersama dan semakin menjauh dari tempat itu, saat tiba di tepi sungai semuanya berhenti dan menatap kearah gua yang telah rata dengan tanah. Satu fase dalam perjuangan Naraya akhirnya berakhir dan gadis itu sedikit merasa lega.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
