Naraya
Ruang hampa membuat mereka kaget tapi sudah terlambat, karena angin yang kencang tetap dapat melukai. Lengan kanan Pak Sarwo terkena goresan dan pipi bagian kanan Naraya juga meneteskan darah. Naraya tak mampu berkata-kata namun hatinya menyakini jika banyangan yang sangat lincah dalam gerakan silatnya tak lain adalah orang lain yang berkedok menyerupai ibunya. Naraya menggelang-gelengkan kepalanya lima kali untuk melihat reaksi dari si penyerang namun dia hanya diam dan berlalu. Sesaat dia terpaku dan mulai mengambil ancang-ancang untuk mengamankan dirinya sebab yang mereka hadapi bukan lagi manusia tapi makhluk yang sangat kejam sekaligus licik.
Naraya kembali menyerang banyangan itu dengan lincah, berharap ada celah yang dapat dia manfaatkan untuk melakukan seragan balik dan membuka kedok banyangan tersebut. Namun sebelum semuanya terwujud, Naraya melihat keputusaan di wajah Pak Sarwo yang merasa lelah dengan keadaan sehingga dia ingin mengakhiri permainan anggota sekte tersebut namun lagi-lagi dia sadar mereka berdua ternyata memiliki tujuannyang jelas. Saat Naraya sibuk memiikirkan siapa gerangan yang menyerang mereka dalam bentuk banyangan. Gemuruh suara petir dan menggelegar membuat semua orang yang biasa menjadi luar biasa.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
