Surat Untuk Ayah
Asih memegang tongkat besi itu sekuat-kuatnya, dengan rasa khawatir akan keselamatan adik-adiknya. Dengan tubuh yang gemetar dan keringan dingin yang mengalir dari sekujur tubuhnya Asih mendorong ketiganya menuju pintu belakang, hatinya berharap ketukan akan berhenti dan mereka akan selamat. Ketiga adiknya juga tampak pucat dengan langkah yang melambat karena tekanan yang dirasakan semakin mengantam mereka.
Asih berjalan di depan dan memimpin pada ketiganya dengan yakin, selalu optimis dalam kehidupan dirinya dan adik-adiknya. Meskipun gadis cilik tersebut masih sangat kecil untuk menerima kerasnya kehidupan, mereka berhasil membuka pintu belakang tanpa suara dan berjalan keluar dengan sangat hati-hati. Sekejap tatapan Asih beralih kepada adiknya Cempaka. Cempaka tampak cemas dan gadis cilik itu nyaris menangis ketakutan. Namun melihat kakaknya yang menatap tajam berhasil melenyapkan deraiannya.
Asih memberikan tongkat besi itu kepada Cempaka, membisikan kalimat penyemangat dan pesan untuk berlari secepatnya dan jangan melihat kebelakang sedetik pun. Setelah yakin ketiganya sudah berhasil menjauh dari rumah mereka, Asih menutup pintu belakang secepatnya. Gadis kecil tersebut berlari menuju ke dapur dan mengambil pisau yang dia anggap akan menyelamatkannya. Asih berjalan pelan menuju pintu menunggu ketukkan berikutnya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
