Surat Untuk Ayah
Asih berhasil membujuk kedua adiknya dan mereka meninggalkan perempuan itu dalam keheningan dan keheranannya. Ada rasa sedih yang sepintas hadir dalam pikirannya akan tetapi tamparan kerasnya kehidupan membuat perempuan yang berstatus sebagai seorang ibu itu menutup pintu kerinduan dari dalam hatinya. Dia berlalu dan membawa luka hati yang kembali berdarah karena pertemuan beberapa menit yang lalu.
Dalam perjalanan pulang ke rumah meninggalkan keraguan dan kecemasan dalam hati gadis kecil itu, dirinya telah menghabisan sisa uang dapur untuk makan siang hari itu. Lima ribu cukup untuk membali telur dua butir dan akan dibuat untuk lauk siang ini. Sayur-sayuran telah tersedia di halaman belakang rumah sehingga Asih tidak memikirkan hal terburuk jika tidak ada protein yang tersedia di rumah setiap hari. Asih hanya memikirkan ayahnya yang memerlukan energi yang cukup agar dapat bekerja untuk mereka.
Sepanjang perjalanan si kembar terlihat sangat senang, karena hari ini mereka diizinkan jajan seperti kanak-kanak lainnya. Sebelumnya Asih akan mengeluarkan bekal yang sama untuk mereka makan setengahnya. Saat malam datang nanti banyak hal yang akan disampaikan, namun sekali lagi hatinya menjadi bimbang dan ragu. Setelah di rumah gadis cilik itu kembali suram karena bukan saja lauk yang mereka tak punya namun tempat beras biasa juga kosong.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
