Surat Untuk Ayah
Asih hanya terpaku menatap pemandangan di depannya, dalam hati menangis dan mengutuk dirinya sendiri karena tak ikut bergabung. Asih segera berlalu dari pemandangan yang mengharu biru di hadapannya. Gadis cilik itu memilih menjauh guna meluapkan emosinya, menangis adalah obat kesedihan yang akan dipilihnya untuk saat ini. Hatinya sangat sakit saat menyaksikan ibu kandungnya memeluk adik-adiknya namun mengabaikan dirinya yang juga sedang dihantam rasa rindu.
Maka sudut perpustakaan sekolah yang sepi karena posisinya yang jauh dari bangunan utama dipilihnya untuk menjadi tempat berkeluh kesah, mereka juga menggunakan tempat itu sebagai markas berkumpul mengerjakan tugas atau sekedar bercerita. Layaknya anak seusia mereka yang suka pamer barang-barang bagus dan baru. Barang-barang trend terbaru juga berjejer di sisi kanan dan kiri dua sahabatnya dan gadis itu lagi-lagi lulus ujian menahan egonya.
Asih yang selalu jujur dan terbuka menerima takdirnya dengan lapang, sehingga sang pencipta tak pelit rezki untuknya. Ada banyak orang peduli padanya namun Asih tak ingin memanupulatif sehingga semuanya menjadi nyaman dengan dirinya. Setengah jam berbagi kesedihan dengan bangunan kosog itu akhirnya sebuah tangan menyentuh pundaknya. Saat Asih berbalik dan matanya yang merah dan sembab menatap adik tengahnya yang menghampiri dengan tubuh basah kuyup.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
