Surat Untuk Ayah
Ketiga kanak-kanak itu berlari dengan napas yang hampir putus, mereka benar-benar mengikuti pesan kakaknya dengan jujur. Ketiganya berlari dengan saling berpegangan tangan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Ada rasa penasaran yang menghantui benak ketiganya namun mereka juga tak ingin kehilanagn kakak yaitu sosok orang tua yang sangat dirindukan. Asih selalu melarang adik-adiknya untuk bersikap ingin tahu jika tidak terkait dengan pengetahuan.
Banyak pertanyaan mereka yang akhirnya dapat dijawab, seiiring berjalannya waktu ketiganya merasa sangat bahagia sebab kakak tertua mereka sangat hebat layaknya seperti pahlawan. Akhirnya cahaya lampu itu terlihat juga di saat ketiganya mencapai pagar belakang rumah bibinya. Kamar yang sangat mereka hafal, pencahayaan luar biasa tanpa pengganggu satu orang pun. Biasanya di dalam kamar telah tersedia cukup kebutuhan mereka selama tiga kali dua puluh empat jam.
Ketiganya memasuki pekarangan belakang dan langsung ke ember besar di sudut rumah untuk membersihkan tangan dan kaki. Mereka diharuskan untuk membersihkan seluruh tubuh agar aman bersembunyi dari makhluk berbahaya yang meneror keluarga mereka. Cempaka tidak ragu memandikkan kedua adik kembarnya lalu mengganti pakaiannya. Kemudian dirinya pun mandi dan mengganti pakaiannya, lalu mereka bertiga masuk ke dalam kamar yang tersendiri digunakan jika terpaksa kritis.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
