Oria Lasmana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Surat Untuk Ayah

Surat Untuk Ayah

Kosong semuanya habis tak tersisa, Asih panik dan dia nyaris tak mampu membendung air matanya. Bu Wati di sekolah sudah mengingatkan dirinya untuk segera melunasi uang LKS adik-adiknya, jika biaya sekolah gratis dan seragam mereka adalah kebaikan dari orang-orang maka untuk buku dan kelengkapan lainnya dirinya harus memutar otak. Pena yang dimilikinya juga sudah tak bertinta lagi, dan besok kelasnya akan ada ujian matematika.

Asih melihat sisa uang jajan si kembar yang masih ada di tangannya, dua ribu rupiah cukup untuk membeli pena untuk dirinya dan Cempaka adik keduanya yang juga akan ada ujian besok. Mereka sudah banyak dibantu oleh wali kelas masing-masing. Asih masih bingun jika ujian kali ini harus dengan pensil lagi pasti mereka akan kena marah lagi, tapi harus bagaimana memilah mana yang terpenting bagi mereka berempat perut atau pendidikan.

Asih memasuki halaman rumah buk Hani tetangganya dengan langkah gontai, sudah tak terhitung pertolongan Bu Hani yang telah dirinya minta. Namun setengahnya belum bisa keluarganya balas, makanya Asih tak segan-segan berbagi tenaganya membantu Bu Hani. Perempuan paruh baya menatap kana-kanak yang malang itu dengan penuh kasih. Sebuah kantung plastik berukuran besar telah menunggunya dengan hangat.

Bersambung...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post