Surat Untuk Ayah
Asih menahan amukan ibunya sedemikian rupa, sehingga tubuh kurusnya beberapa kali tersungkur ke lantai. Gadis cilik itu terus menahan sakit dengan ikhlas tanpa mengeluh, sampai akhirnya pegangan sang ibu pada adik kembarnya lepas. Keduanya terjatuh dan malang bagi Asih kepalanya justru membentur kaki tempat tidur. Darah segar mengalir dari luka tersebut, pandangan gadis cilik mulai mengabur dan serangan yang tadinya gencar akhirnya terhenti.
Ketiga adiknya tampak panik dan segera menghampiri begitu mereka melihat kakak tertua roboh dan darah yang mengalir dari luka di kepalanya cukup banyak. Mereka mengobrak-abrik seluruh kamar untuk menemukan kain yang dapat digunakan menutup luka. Kondisi yang demikian menyebabkan suasana ribut hingga terdengar sampai ke luar kamar. Detik berikutnya terdengar ketukan di pintu yang awalnya masih bersahabat namun pada akhirnya semakin keras.
Perempuan yang kesetanan itu akhirnya membukakan pintu, dan saat melihat siapa yang mengetuk pintu barulah dirinya sadar. Suaminya telah berdiri di depan pintu dengan wajah datarnya namun ekspresi marahnya masih terlihat. Asih yang masih tergeletak di lantai tampak berusaha bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Hatinya diliputi kekhawatiran yang dalam terhadap keselamatan adik-adiknya, meskipun harus menahan beribu sakit di sekujur tubuhnya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
