Surat Untuk Ayah
Asih menyanggupi konsekuensi yang ditawarkan karena gadis cilik itu tidak memiliki solusi lain. Wajah ketiga adiknya menari-nari dalam pikirannya, bagaimana dirinya yang masih belia menanggung semua permasalahan hidup yang akan menyangkut kehidupan mereka berempat. Asih membuka pintu rumah kecil mereka dengan hati gundah, namun gadis cilik itu menyimpan kekhawatirannya dalam hati dengan tetap menunjukkan senyumannya.
Saat si kembar menanyakan apa yang terjadi dengan suara lantang dirinya menjawab semua baik-baik saja. Asih sangat ragu dan keraguannya hanya dapat dibagi dengan adiknya Cempaka, segera gadis itu menemui saudaranya yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk mereka berempat. Cempaka yang melihat kakaknya datang dengan wajah yang galau telah dapat menebak apa yang terjadi, dalam hatinya sangat iba kepada Asih, kakak yang menampung begitu banyak beban dalam usia yang masih sangat muda.
Keduanya berbicara pelan agar adik mereka tak mendengar apa sebenarnya yang terjadi, Asih mengatakan jika dirinya hanya diberi waktu satu minggu untuk mendapatkan respon dari sang ayah. Cempaka menghela napas panjang saat mendengar persyaratan yang diberikan penagih hutang tersebut, jelas mereka tak akan mudah menemukan atau berkomunikasi dengan ayah karena ayah mereka tak tahu tempat atau alamatnya. Jika ayah mereka ingin bertemu tentu dia akan mencari waktu tertentu atau menitipkan kebutuhan hidup disaat mereka tidur.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
