Surat Untuk Ayah
Mereka bermalam dan menikmatinya seperti tawanan di penjara, sepanjang malam mereka tidak boleh keluar kamar. Semua aktivitas dilakukan di dalam kamar ukuran enam kali lima dilengkapi kamar mandi dan perlengkapan kamar anak layaknya. Ada lemari pakaian yang besar dan memenuhi sepanjang dinding kamar. Lemari yang tidak kosong tentunya karena di dalam lemari banyak pakaian anak seusia mereka. Keempatnya bebas memilih dan memakai pakaian yang mereka inginkan dengan jumlah yang fantastis.
Semua perlengkapannya yang sepadan juga tersedia dengan berbegai model yang menarik. Asih dan saudaranya hampir melupakan jika mereka datang ke rumah ibu mereka karena membawa sebuah misi. Si kembar juga asik dengan berbagai main yang bagus dan canggih yang tersusun rapi di tempat mainan. Mereka merasa malam tak akan cukup untuk memenuhi segala impian masa kecil mereka yang sangat kesusahan.
Sementara waktu melupakan gubuk mereka yang reot, padahal malam itu sosok yang biasa mengunjungi mereka dalam gelap telah datang kembali dengan membawa harapan memupus kerinduan akan sebuah pertemuan, namun saat matanya yang legam melihat rumah yang gelap tanpa cahaya sedikit pun hatinya menjadi khawatir. Setelah berkeliling seperti biasanya dirinya merasa ada yang ganjil sehingga memberanikan diri untuk masuk ke dalam gubuk melalui dapur.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
