Surat Untuk Ayah
Sementara tuan pemilik rumah mewah tidak ikhlas sepenuhnya sebab hatinya masih sulit mempercayai kebenaran dan kelemahan orang lain. Secara diam-diam surat yang ditulis anak-anak yang ditujukan kepada ayah mereka telah berada di tangannya. Istrinya yang bodoh telah mempercayai kata-katanya dan akhirnya menyerahkan segalanya kepada dirinya. Tabiatnya yang keras berhasil menekan perempuan itu sehingga akhirnya mengaku dan jujur.
Laki-laki itu telah membacanya dengan menempatkan posisi pada anak-anak yang terlihat sangat ketakutan dan membutuhkan perlindungan. Layaknya anak ayam yang kehilangan induknya, mereka berupaya nampak tegar. Laki-laki itu membuka amplop dan membaca tulisan rapi dan bagus milik Asih, untaian bahasa yang lembut dan bermakna menjelaskan segalanya. Kondisi mereka yang tidak baik-baik saja, serta sejumlah hutang yang harus segera mereka lunasi.
Tuan tanah, beberapa kali laki-laki itu mengulang kalimat tersebut dalam hati, dirinya ragu jika itu benar. Sekarang dirinya sedang berdiri di depan rumah atau gubuk reot mereka bersama beberapa orang yang telah dipekerjakannya untuk membongkar rumah tersebut untuk direnovasi. Jika memungkinkan anak-anak itu dapat menempatinya dengan segera. Semuanya telah direncanakan dengan matang sehingga tak masalah baginya untuk memulai dari nol lagi.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
