Surat Untuk Ayah
Asih merasa nyaman namun dalam kurungan, dia dan adik-adiknya seperti orang normal pada umumnya. Mereka melakukan semua aktivitas yang biasa dilakukan dulu namun bedanya sekarang mereka tidak boleh melewati jalur atau mengganti aktivitas mereka. Semua dilakukan harus sesuai dengan rencana yang sudah di susun dan tak boleh diganti. Layaknya burung dalam sangkar emas, yang tak mampu pergi meninggalkan sangkar meskipun sangkarnya terbuat dari emas.
Hari ini semua akan diambil kembali dan semua harus kembali normal, laki-laki itu menyimpan tekadnya dalam hati. Setelah menyelesaikan kebunnya yang luas ada sedikit harapan akan membahagiakan anak-anaknya. Dia akan menjemput keempatnya untuk dibawa kembali ke gubuk mereka dan menjalani hidup seperti apa adanya. Mereka akan normal kembali dan dirinya akan belajar melupakan dan memaafkan mantannya yang berhasil di selamatkan.
Saat ini perempuan itu dipapahnya menuruni perbukitan dengan tanah dan bebeatuan yang cukup terjal. Perempuan tersebut tampak pasrah dan telah sadar akan sifat buruknya yang telah menyebabkan kekakauan. Hati seorang ibu yang mendadak lenyap seketika oleh silaunya kemulian dunia, padahal dirinya telah berjuang menentang maut untuk melahirkan keempat anaknya. Dalam hatinya telah berjanji untuk berubah dan memperbaiki diri. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah meminta maaf kepada anak-anaknya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
