Surat Untuk Ayah
Asih menatap Cempaka dalam diam, keduanya menyimpan komentar dalam diam terlintas rasa cemas yang membalut kedua gadis cilik tersebut. Mereka berdua sangat paham dengan kehadiran laki-laki tersebut, jelas meminta pembayaran untuk hutang yang ditinggalkan oleh ibu mereka sebelum kabur dengan laki-laki lain. Asih memandang iba kepada kedua adik kembarnya, mereka tak memiliki apa pun dan tempat mana pun untuk berteduh. Satu-satunya rumah yang aman dan nyaman hanya gubuk reot mereka yang didirikan diatas tanah milik tuan tanah Dirja.
Keempatnya terpaksa memberanikan diri melewati jalan tersebut walau dengan hati ciut dan kecemasan jika mereka harus kehilangan segalanya kali ini. Dan apa yang menjadi ketakutan Asih dan Cempaka ternyata benar adanya, laki-laki bertubuh besar dan berwajah keras itu menanyakan keberadaan kedua orang tua mereka sebagai basa basi. Kemudian setelah tahu keempatnya hanya kanak-kanak wajahnya sedikit berubah namun tetap terkesan datar. Asih meminta adiknya Cempaka membawa si kembar pulang sementara dirinya mencoba bernegoisasi.
Harapan gadis cilik itu hanya tinggal harapan, karena situasinya tak semudah yang dipikirkan oleh otak kecilnya yang sederhana. Laki-laki itu tampak tak ingin memberi peluang kepada anak-anak yang kehilangan kedua orang tuanya tersebut. Dalam keputusaan Asih hanya mampu menjanjikan akan menghubungi ayah dan ibu mereka melalui sepucuk surat.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
