Jalan Untuk Pulang
Mereka sampai di gudang atau markasnya tuan besar penguasa dunia hitam yang disebut Big G. Beberapa orang pengawal menghadang kelima anak muda itu saat mereka tiba di pintu gerbang rumah besar yang lebih menyerupai gudang. Bangunan yang berdiri dengan angkuh di tengah-tengah hutan yang mati. Hutan mati karena pepohonan yang tak lagi berdaun, bukan karena gugur tapi dedaunan yang tumbuh hanya berupa duri saja.
Pohon yang demikian seperti menjadi saksi bisu kekejaman pemilik lahannya, sebab mereka seperti kekurangan gairah untuk hidup. Kelima anak muda itu tampak ragu saat ditanya keperluan menemui Big G di jam istirahatnya. Setelah negosiasi dengan menceritakan latar belakang kondisi yang mendesak akhirnya mereka diperbolehkan masuk. Sebelum masuk dan bertemu Big G mereka berlima harus menjalani rangkaian pemeriksaan.
Bagas tidak selugu yang mereka kira demikian pula dengan teman-temannya, pemuda itu tersenyum saat satu-satunya senjata yang mereka bawa akhirnya lolos. Mereka tidak akan mengantarkan nyawa secara cuma-cuma ke dalam kandang macan tanpa senjata api. Mereka memang tidak membawa senjata nyata seperti yang ada dalam otak para penjaga, namun mereka membawa senjata manipulasi yang mereka kemas dalam batangan rokok yang tersimpan dalam saku baju.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
