Jalan Untuk Pulang
Hari berganti dengan cepat tak memberikan peluang ataupun pengampunan kepada orang-orang yang ingin memperbaiki keadaan. Bagas dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke kota agar bisa melanjutkan kehidupannya kembali. Kehidupan yang mungkin akan menjamin masa tua daripada mereka tetap di kampung mereka yang sudah mendekati kesunyian. Setelah satu minggu di sini mereka tak melihat harapan untuk terus bertahan sebab lingkungan mereka telah kehilangan daya lentingnya.
Bagas terus membujuk kakaknya untuk ikut bahkan nenek baik hati dan bidan muda itu juga menolak dengan alasan kemanusiaan. Negara ini akan hancur secara perlahan sebab banyak kota-kota yang terdampak polusi ditinggalkan penduduknya. Bangunan kosong dan jalan raya yang sepi serta sudut kota yang ditumbuhi ilalang menandakan kondisi parah yang tak terkendali. Penduduk menuju kota atau kawasan yang masih asri atau terpelihara dengan daya dukung lingkungan yang stabil.
Mereka tidak memikirkan lagi harta benda yang tertinggal sebab bertahan juga tak mampu, beberapa instansi masih berdiri di kota itu sekedar memberikan motivasi untuk orang tua, namun memilih menyarankan pindah kepada laki-laki maksimal usia lima puluh. Sementara fasilitas pokok mulai dikurangi dengan alasan efisiensi. Padahal para lansia memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih. Jumlah relawan semakin bertambah dengan kondisi penduduk yang masih bertahan.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
