Jalan Untuk Pulang
Saat yang mendebarkan itu akhirnya tiba, di sore yang cerah tiba-tiba Darna merasakan sakit pada bagian pingga yang menjalar hingga ke bagian atas tubuhnya. Darna yang hanya seorang diri di rumah, mencoba mencari bantuan. Rasa sakit yang seakan merontokkan semua tulang belakangnya terjadi berulang-ulang, namun Darna tidak kehilangan akal. Seluruh tenaga yang tersisa digunakan untuk mencapai bel otomatis yang bisa menjangkau lebih luas mencari adiknya Bagas guna mencari pertolongan.
Saat sampai dibagian atas lantai dua dari kediamannya, Darna merasakan sakit yang luar biasa dari sebelumnya. Dan air merembes dari bagian bawah yang menandakan dirinya akan segera melahirkan, keringat mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya. Matanya yang indah akhirnya menangkap adanya sesuatu yang mengggantung terbuat dari besi. Darna meraih lonceng besi untuk memanggil Bagas, tapi saat melihat lonceng itu Darna kaget.
Lonceng itu telah terlepas dari talinya, dan jendela dari lorong rumah lantai atas terbuka lebar. Darna menoleh mencari di sekelilingnya, hatinya merasa adsa seseorang yang telah memutuskan talinya dengan sengaja sebelum dirinya naik keatas. Jendela yang selalu terkunci kini terbuka lebar sehingga angin masuk dengan leluasa. Darna meraih tongkat kayu yang biasa digunakan Bagas untuk bermain bissball ala ala dia dan teman-temannya. Darna melangkah perlahan untuk memberikan pelajaran bagi si penyeludup.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
