Jalan Untuk Pulang
Darna melihat bayangan berkelebat dan bersembunyi di balik pintu masuk mengisyaratkan dirinya tak ingin diketahui oleh tuan rumah. Ada aroma khas yang memenuhi ruangan, aroma rumput liar yang serasa pernah tercium oleh Darna beberapa waktu yang lalu. Bau yang sangat familiar baginya dan memberikan kesan menakutkan. Bagaimana otaknya seperti mesin waktu yang berputar melintasi waktu beberapa bulan yang lalu tentang keseluruhan kejadian menakutkan yang dialaminya.
Darna memegang erat tongkat kayu di tangan kanan dan tangan kirinya terkepal erat disamping tubuhnya yang dengan tegap berjalan mendekati asal bayangan tersebut. Semakin dekat maka semakin tercium aroma rumput liar yang celaka. Tiba-tiba ibarat sebuah film yang terputar kembali, Darna melihat dirinya yang berteduh di atap salah satu kios yang ada di pasar. Suasana dingin menusuk tulang dari cuaca yang baru saja hujan.
Saat itu hatinya sedang bahagia karena dagangannya habis terjual, seperti biasa seorang pria paruh baya seumuran ayahnya telah memborong semua dagangannya. Bukan hari itu saja karena sebelumnya pria itu juga terus mensuportnya dengan memborong dagangnya. Sambil menghitung uang hasil dagangannya yang akan dia berikan setengah kepada adiknya guna membayar uang sekolah maka setengah lagi untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit modal bibir mungil yang indah itu melantunkan ayat-ayat pendek.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
