Jalan Untuk Pulang
Darna memanggil nenek tabib dari dalam kamarnya, suaranya kecil namun cukup tegas. Darna menyatakan jika dirinya bersedia di temui oleh laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut masuk diiringi oleh nenek tabib dan penjaga yang terlihat telah siap dengan senjata. Mereka sebenarnya tak percaya jika laki-laki tersebut akan berbuat jahat. Namun berjaga-jaga adalah pekerjaan yang mereka terima upahnya dari Bagas.
Harga diri mereka tak akan dijual demi dua nyawa yang tak bersalah, saat kesetian dan uang berada pada level sama maka kualitas seseorang akan terlihat kemurniannya. Mereka menyanggupi bukan hanya untuk uang tapi juga untuk kebahagian. Bahagia yang terpancar dari perempuan tangguh yang mereka jaga, dimana mereka tak kenal takut dan selalu taat beragama. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri tempat tidur kayu jati.
Disanalah tubuh lelah dan lemah itu berbaring, tanpa pengobatan medis yang cukup hanya herba yang selalu diganti setiap lima belas menit. Pantas saja semua yang berada di dalam ruangan itu terlihat sangat lelah dengan kantung mata. Darna kelihatan sangat kurus, sebab suhu tubuhnya yang naik turun dan nafsu makan yang menurun mempengaruhi stamina gadis itu. Bola matanya yang hitam legam seolah bicara menyampaikan berjuta pertanyaan yang sulit dijawab walaupun dengan kedipan mata.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
