Jalan Untuk Pulang
Malam berlalu dengan cepat berganti dengan hari esok yang lebih cerah, namun kondisi Darna tidak berubah. Darna masih terbaring di atas tempat tidurnya, menjelang pagi napasnya semakin berat. Pandangan mata Darna mulai kosong dan hampa, seperti tak ada tujuan hidup lagi. Nyanyian mentari agak sedikit menyegarkan pendengarannya. Darna merasakan tubuhnya semakin lemah dan geraknya semakin terbatas.
Laki-laki yang telah kembali datang kepada hidupnya masih setia di samping Darna, entah berapa kali mengucapkan kata maaf kepada Darna. Darna berulang kali juga menyanggupi untuk memaafkan, hatinya sudah merasa lapang dan tak ragu untuk meninggalkan. Nenek tabib telah berulang sejak malam menghangatkan tangan dan kaki Darna. Setiap lima belas menit perempuan tua itu mengganti kompres dengan air hangat.
Usaha nenek sudah maksimal, laki-laki itu pun telah memanggil orang-orang terbaiknya. Namun semuanya tak terbaca pada tubuh Darna. Darna hanya membalas semuanya dengan senyuman terhangat yang pernah dimiliki. Hatinya yang bersih dan hangat selalu menerimanya dengan ikhlas, meskipun berat perempuan muda itu pasrah. Darna menatap hangat mentari melalui kamarnya yang bersih dan luas, dia tak sendiri demikian juga tentang semua janji yang kini sudah terpenuhi.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
