Jalan Untuk Pulang
Bagas mencapai tujuannya dengan langkah yang panjang-panjang pemuda itu menuju pintu besi setelah meminta izin kepada kedua penjaga. Saat pintu besi terbuka, Bagas sudah disambut oleh nenek tabib dengan wajah sedih dan bu bidan yang menatapnya dengan menahan air mata yang nyaris tumbah. Perasaan Bagas semakin tidak enak dengan segala kekuatannya pemuda itu segera menuju pondok sederhana yang asri.
Bagas menarik tuas pintu dan segera menuju kamar kakaknya, di tempat tidur sederhana terlihat kakak yang di cintai terbaring lemah. Wajahnya kelihatan pucat dan tanpa gairah, namun sorot matanya masih terlihat tajam. Kakaknya sedang berjuang untuk dirinya dan anak itu, yang juga terlelap di samping Darna. Bagas sedikit lega melihat malaikat kecil itu terlihat sehat dan baik-baik saja. Bagas mendekati Darna duduk di sampingnya dan memegang jari-jari yang dingin itu.
Bagas menatap kakaknya dengan pandangan tajam yang terkendali kedua bersaudara itu percaya jika sebuah harapan akan dapat terwujud dengan tekad yang kuat. Bagas mengajak kakaknya untuk saling berdoa dan agar mereka diberi peluang untuk dapat kembali bersama. Setidaknya mereka dapat kembali ke rumah, memenuhi harapan terakhir sang ibu yang sangat ingin memeluk Darna namun kematian telah mendesaknya untuk ikut.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
