Jalan Untuk Pulang
Bagas menghangatkan dirinya sendiri dengan menggunakan kedua tangan dan menaikan kerah baju hangatnya yang terbuat dari benang wol. Baju hangat yang di rajut dengan kedua tangan penuh kasih dari tangan ibunya. Bagas merasa lelah dan sekaligus bahagia larut dalam kenangan yang harmonis. Wajah bijak penuh cinta sang ibu menghiasi seluruh penglihatannya, bagaimana hari-hari mereka yang sederhana tapi bahagia.
Bagas tak kuasa membendung air matanya yang mengalir begitu saja, karena usahanya telah banyak mendatangkan hasil. Sekarang dirinya telah berhasil memenuhi pesan terakhir ibunya untuk menemukan kakak perempuannya. Sekarang Darna telah berhasil melewati perjalanan panjang tentang kepedihan hidup yang nyaris merenggut nyawanya. Bagas menutup kaca mobilnya dan menghidupkan lampu depan memberi tanda kepada penjaga.
Pintu pagar dibuka dan meninggalkan deru asap yang membahana, nenek tabib dan bu bidan akhirnya menutup pintu besi. Pintu yang sekaligus membatasi kehidupan nyata dan keinginan pada pencapaian masa depan. Namun bekal yang ditinggalkan dirasakan cukup menyelamatkan Darna dan bayinya, Bagas meninggalkan banyak pengalaman dan keinginan namun hatinya masih terasa kosong dan sedih. Semuanya telah disampaikan dalam beberapa bait kalimat yang dia titip pada nenek tabib.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
