Perkampungan Rahasia
Mentari menyinari perjalanan mereka, suara nyanyian burung seakan menjadi simponi merdu setia yang akan mendampingi. Lady Marry tidak menggunakan atribut mewah seperti biasanya, melucuti semua perhiasan dan hanya menggunakan penutup kepala biasa yang banyak digunakan oleh perempuan petani dari golongan rakyat jelata. Lady Marry tetap berada dalam keretanya, menyimak semua perjalanannya dengan santai, namun tetap fokus pada semua gerakan dan isu.
Kebosanan menderanya lebih awal sehingga mereka memutuskan berhenti, setelah menemukan tempat yang cocok dengan hamparan rumput yang hijau rombongan beristirahat guna mengisi bahan bakar dan memberi minum kuda-kuda. Semua yang mengiringi kereta tampak lelah dan ingin beristirahat, kondisi mereka masih berbekal makanan semalam. Namun karena beratnya medan yang dilalui tak memungkinkan bagi mereka untuk berhenti lebih awal.
Setelah semuanya dirapikan dan diatur barulah makan siang disajikan dengan lengkap. Pelayan kepala akan memanggil Ladynya untuk makan siang. Marry yang mencium aroma lezatnya makanan akhirnya menolak makan di kereta dan menikmati semua keterbatasan dengan ikhlas. Suasana meja makan dan hidangan yang disajikan selalu dibuat sama dengan kondisi kediaman sang majikan. Para pelayan tidak ada yang beristirahat semuanya sibuk mengurus majikannya. Sehingga tidak mengetahui kedatangan beberapa orang yang mengepung kereta mereka.
Bersambung....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
