Perkampungan Rahasia
Lady Marry meneguk teh panas dengan sepotong cake keju dengan tenangnya, seperti puas menikmati kemenangan atau otoritasnya. Hatinya kembali hangat setelah tadi sempat dingin oleh perbuatan kanak-kanak yang tak disukainya. Senyum kembali merekah di bibirnya yang tipis namun penuh, sebuah buku psikologi dengan ketebalan hampir sekarung gandum berada di hadapannya. Semua akan dilahap sekejap melebihi kecepatan potongan cake keju tersebut di mulutnya.
Jam dinding besar tersebut kembali berdentang lebih banyak dari sebelumnya dan pintu ruang baca belum terbuka. Hidangan makan siang juga terlewatkan dan dingin di meja makan jati, beberapa pelayan bagian dapur tampak gelisah termasuk koki sebab masakannya tidak tersentuh sama sekali. Namun banyak pelayan di bagian dapur lebih menyukai kondisi itu, makanan yang bersisa akan menjadi hidangan makan malam yang lezat.
Kepala rumah tangga datang ke ruang makan lalu membereskan semua hidangan dengan bantuan beberapa orang yang juga tampak menyimpan rencana untuk hidangan yang tak tersentuh tersebut. Mereka tersenyum dalam hati sebab nyonya akan melupakan makanan-makanan tersebut, dan hal itu adalah kesempatan dan harapan terbesar mereka karena makan makanan enak hanya ada pada waktu tertentu saja. Sementara di hari biasa mereka hanya makan roti gandum yang keras.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
