Kumbang dan Bunga
Hujan yang membawa mereka pada sebuah pertemuan singkat di bawah atap seng bangunan tua yang berdiri kokoh. Setidaknya usianya masih jauh dari kritis akan tetapi semuanya akan terasa lebih berat akibat cuaca yang tak pernah benar-benar bersahabat kepadanya. Rumah itu dulunya besar dan ramai, penghuninya saudagar yang mempunyai beberapa orang anak. Kepergiannya setiap minggu keluar daerah mencari penghidupan ternyata mengundang maut.
Saat rumah tersebut harus kosong bukan karena mereka bangkrut, namun keterpaksaan untuk dapat memulai hidup kembali membawa mereka pada sebuah keputusan. Rumah hanyalah sebuah bangunan yang hanya dapat menjadi saksi bisu kepedihan hati pemiliknya. Meskipun terus berusaha dalam ketidak berdayaanya bangunan itu mampu berdiri. Sekarang ada dua orang anak manusia yang menjadi saksi perjalan hidup yang luar biasa.
Bunga yang manis dan ramah menatap Kumbang kagum, baginya kulit legam Kumbang menjadi setara dengan ayah dan saudara laki-lakinya. Warna kulit yang menurut mereka menunjukkan kekuatan dan harga mati sebagai laki-laki. Dan mata Kumbang terus menyala seolah-olah akan mengejar semua impian dan harapan membuat senyum Bunga merekah. Awalnya Kumbang heran respon gadis kecil di depannya, namun setelah mendengar ketulusannya barulah dirinya paham.
Bersambung....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
