Kumbang dan Bunga
Sesuatu yang buruk dalam firasat laki-laki itu membayangi ibadahnya, ada yang sedikit bebas begitu melihat wajah Kumbang. Namun saat melihat tatapan Kumbang, hati kecilnya tergerak untuk mulai meminta bantuan kepada anak laki-laki yang berpenampilan kuat. Sementara tak jauh dari mesjid, gadis kecil berjalan pelan menuju rumah. Jarak tempuh yang hanya sepuluh menit menjadi terasa lama sebab jalanan di desa masih menggunakan obor sebagai penerangnya.
Bunga sedikit menyesal dalam hatinya karena tak mengindahkan saran Pak Sarno, ada kecemasan yang menyelimuti hatinya. Namun ada ketegaran yang lain membuat dirinya sedikit berani melintasi jalan kampung kelahiran dimana seluruh penghuninya dirinya kenal baik. Bunga memegang tali tasnya sedikit kencang begitu melewati ladang tebu sebagai pemisah antara sekolah dan perkampungan di depan sana. Cahaya dari obor-obor yang diletakkan di sepanjang jalan menyentuh tubuhnya dan meninggalkan bayangan.
Bunga mendengar suara rumput yang diinjak atau suara langkah yang sepertinya ikut mengiringi, berusaha dia tepis. Suara yang mengiringi dan langkah kaki di balik batang tebu memburu dan terus memburu, gadis kecil itu mulai cemas dan ketakutan. Dengan detak jantung yang berirama keras dan keringat dingin yang mengalir deras Bunga mempercepat langkahnya berusaha menuju rumah warga terdekat secepat yang dirinya bisa.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
