Kumbang dan Bunga
Kumbang kembali ke tempat persembunyiannya, mencoba menyusun rencana yang membuat kepalanya seperti mau pecah. Sementara udara yang masuk ke dalam paru-parunya semakin kecil akibat menahan kekhawatiran. Kumbang takut jika tarikan nafasnya sampai terdengar oleh orang-orang yang bolak balik masuk ke dalam ruangan tesebut. Namun mereka bukan orang yang sama dengan lima laki-laki di awal, perawakan keduanya lebih bersih dan bersahabat.
Mereka tak menaruh curiga sedikitpun kepada Kumbang yang bersembunyi di balik kain korden, meremas ujung kausnya sendiri. Mata murni yang belum pernah menagkap kejahatan dan aktivitas lainnya, kini tak dapat terpejam begitu melihat segalanya. Penyiksaan yang dialami korban sangat luar biasa, tadi Kumbang sempat mendengar suaranya yang kecil dan teriakan yang lirih. Sebuah permohonan agar dapat diantarkan menemui kedua orang tuanya.
Namun sangat disanyangkan suara lemahnya tak mampu meruntuhkan kekejaman orang-oarang itu, dari sana pada sudut tempatnya berdiri, dalam gelap sepasang mata yang dirinya kenal dengan baik menatap tajam kepadanya. Tatapan yang juga memohon agar Kumbang membantunya, sesekali bibir mungil itu memanggil nama kedua orang tuanya, bicara lemah memohon ampun dan rintihan kesakitan. Namun tak ada kasihan, tak ada bujukkan yang ada hanya perlakuan yang sesungguhnya sangat kejam dan brutal.
Bersambung....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
