Kumbang dan Bunga
Bus besi dengan jalan yang terseok-seok melintas jalan tanah yang telah berlobang di sana sini diiringi bunyi baut yang beradu dengan baut lain. Berisik dan memecah pagi dengan rangkanya yang berkarat karena usia. Saat supir melihat enam orang di pinggir jalan menunggu sambil memanggul tas ransel kain mereka yang terlihat menyedihkan seperti tampang mereka. Keenamnya naik ke bagian atap mobil karena bagian dalam telah penuh.
Perjalanan kali ini walau tidak mereka sukai namun tetap harus dilanjutkan, sebab mereka tak memiliki banyak waktu. Tubuh yang berbalur debu semakin berdebu dengan posisi tubuh mereka yang di atas bus. Untungnya ada besi di bagian pinggir bus yang dapat digunakan untuk berpegangan. Mereka berenam dalam kondisi tubuh yang kelelahan, setelah semalaman tak dapat tidur dengan layak akibat gangguan hewan hutan yang berkeliaran.
Tubuh mereka berenam ikut meliuk-liuk mengikuti gerakkan bus, dalam hatinya mereka jengkel dan marah. Namun mereka sadar marah-marah tak akan menyelamatkan mereka dari situasi buruk ini selama perjalanan hingga keesokkan harinya. Di kota kecamatan Kumbang dan Bunga tengah berberes, membersihkan tubuh mereka agar dapat tampil menyakinkan nantinya di depan polisi. Setelah menyakinkan dirinya sendiri Bunga melangkah mantap menuju keadilan.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
