Kumbang dan Bunga
Mereka melangkah dengan pasti menuju matahari yang perlahan menghangat dan suara kicau burung hutan yang enggan berhenti. Semua penghuni hutan mengikuti alur dari perjalanan mentari yang selalu ingin memeluk keheningan alam. Bunga menarik napas dan memilih menepi sambil meluruskan anggota tubuhnya menghilangkan penat yang menderanya. Sudah lebih enam jam mereka menjelajahi hutan menuju kampung halaman namun perkampungan belum juga terlihat.
Sementara Kumbang menelusuri hutan mendengarkan langkah kaki hewan untuk menemukan sumber air. Dahaga di keongkongan mereka terasa semakin pahit, hanya setetes dua tetes embun yang meluncur ke bawah. Mereka tak dapat menelan lebih banyak lagi jika dehidrasi tinggi. Air di dedaunan tak cukup memenuhi kebutuhan tubuh mereka lagi. Peluh telah membasahi pakaian dan sebagian besar tubuh mereka, namun kaki harus tetap di gerakkan.
Semakin lama mereka bergerak maka akan semakin dekat jarak yang tercipta dengan orang-orang yang telah berniat memburu dan membiansakan mereka. Kumbang mulai ragu langkah yang mereka ambil pasti akan memberikan dampak bagi mereka berdua. Jika harus kembali pulang bagaimana menghadapi orang-orang desa terutama keluarganya. Dan jika harus tetap bertahan maka keberadaan mereka nyaris menghancurkan kehidupan orang lain.
Bersambung....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
