Kumbang dan Bunga
Kumbang mengajak Bunga menelusuri pasar yang tetap teguh pada aroma sayuran busuk dan ayir ikan busuk. Bagian belakang pasar tradisional itu ternyata jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Tumpukan sampah kertas, plastik dan kaleng-kaleng berjejer menjadi satu pemandangan yang tak menyegarkan. Sementara tanahnya masih becek dan sisa-sisa buah dan sayuran busuk bertebarang begitu saja akibat bak-bak yang penuh.
Keduanya terpaksa menutup hidung agar mengurangi aroma menyengat yang luar biasa, langkah kaki mereka tampak pasti menembus gelap malam dan aroma busuk yang tak kunjung pergi. Tatapan mata keduanya terus tertuju pada deretan perumahan sederhana yang padat di belakang pasar. Malam yang hampir mencapai pagi tersebut akhirnya menjadi seperti siang. Orang-orang yang ramai dan terlihat sibuk sambil membawa ember.
Saat keduanya tiba di tempat tujuan dan apa yang mereka takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Hati kedua bocah itu terasa teriris-iris mana kala menlihat rumah wanita yang baru saja membantu mereka membuat laporan ke kantor kemanan ternyata telah ludes dilahap api. Bunyi kayu yang dimakan api masih teredengar di telinga Kumbang, namun anak laki-laki pemberani itu malah memberanikan dirinya untuk masuk kekerumunan orang-orang demi membuktikan sesuatu.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
