Kumbang dan Bunga
Mereka berdiri saling menatap dalam diam dan wajah yang kaku, segala isi hati yang akan disalurkan melalui lisan akhirnya hanya mampu terungkap lewat mata. Seperti telepati antar raga yang menginginkan pelampiasan, dua pasang mata saling berperang untuk menyampaikan keinginan. Namun akhirnya wanita itu mengalah, dia melangkah pergi meninggalkan laki-laki yang telah mendampingi dalam balutan kekecewaan mendalam.
Laki-laki itu menunduk, terdiam dan diam-diam menangis dalam hatinya begitu banyak pesan yang ingin dibagi bersama. Akan tetapi wanitanya menolak, dengan kilatan amarah di mata yang selama ini membuat amarahnya menguap dan kini yang terjadi malah sebaliknya, mata itu kosong, senyuman itu hambar maka isi hatinya akhirnya terjawab. Sementara di balik pintu kamarnya tubuh ringkih itu bergetar hebat diiringi isak yang luar biasa.
Isaknya tak tertahan, getaran yang ada membawa langkahnya mengemasi pakaian seadanya. Tak lupa benda-benda penting seperti sertifikat, sedikit uang dan benda berharga yang dimilikinya bukan milik suaminya. Tanpa menoleh lagi dirinya dengan mantap, melangkah meninggalkan rumah besar yang selama ini hangat akan tetapi sekarang menjadi sedingin es. Dibalik tirai sutera yang menutupi jendela besar yang mengarah ke halaman, mata itu menatapnya sedih.
Bersambung....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
