Oria Lasmana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kelezatan Gelamai Payakumbuh Jejak Manis Tradisi Kuliner Minangkabau

Kelezatan Gelamai Payakumbuh Jejak Manis Tradisi Kuliner Minangkabau

Bagi para pencinta kuliner tradisional Nusantara, nama Gelamai Payakumbuh tentu sudah tidak asing lagi. Jajanan khas bertekstur kenyal dengan rasa manis yang legit ini merupakan salah satu ikon kuliner kebanggaan masyarakat Payakumbuh dan Kabupaten 5 Puluh Kota, Sumatra Barat. Hingga kini, gelamai tetap eksis dan selalu dicari, baik oleh masyarakat lokal maupun pelancong yang berkunjung ke Ranah Minang.

Gelamai adalah salah satu jenis makanan tradisional yang mirip dengan dodol. Di Minangkabau, pembuatan gelamai tidak sekadar proses memasak biasa, melainkan sebuah tradisi sosial yang sarat akan kebersamaan. Biasanya, pembuatan gelamai dilakukan secara gotong royong—atau yang dikenal dengan istilah gotong royong—terutama menjelang hari raya besar seperti Idul fitri dan Idul adha, atau pada acara adat seperti pernikahan. Proses pembuatannya membutuhkan kerja sama karena mengaduk adonan dalam jumlah besar di atas kuali besar memerlukan tenaga ekstra dan waktu yang tidak sebentar.

Keunikan rasa Gelamai Payakumbuh berasal dari kesederhanaan bahan-bahan bakunya yang serba alami tanpa pengawet buatan. Komposisi utamanya meliputi:

Tepung Ketan: Memberikan tekstur kenyal dan liat yang khas.

Santan Kelapa: Berasal dari kelapa tua pilihan untuk menciptakan rasa yang gurih dan creamy.

Gula Aren (Gula Enau): Kunci utama warna kecokelatan yang menggugah selera serta aroma harum karamel yang khas.

Membuat gelamai adalah sebuah seni kesabaran. Adonan yang terdiri dari campuran tepung ketan, santan, dan gula aren dimasak di dalam sebuah kuali besar di atas kayu bakar. Proses pengadukan harus dilakukan secara terus-menerus selama berjam-jam—biasanya memakan waktu antara 4 hingga 6 tahun (atau jam, tergantung porsi)—tanpa boleh ditinggal agar bagian bawahnya tidak gosong dan teksturnya matang merata. Kesabaran dan ketekunan para perajin inilah yang membuat gelamai memiliki kualitas rasa yang terjaga dan tahan lama secara alami.

Saat berkunjung ke Payakumbuh, rasanya belum lengkap jika belum membawa pulang gelamai sebagai buah tangan. Biasanya, gelamai dikemas secara tradisional menggunakan bungkus daun pisang kering (sarasah) atau kemasan modern yang praktis untuk dibawa bepergian. Menikmati sepotong gelamai ditemani secangkir teh atau kopi hangat di sore hari akan membawa kita pada kenangan hangat tentang kekayaan budaya kuliner tradisional yang sarat makna.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post