Lidah-lidah lonceng di kesunyian
Kulihat gumpalan awan di langit yang kelam
Menutup cahaya sang rembulan yang murung
Tiada menengarai suara burung malam
Angin pun tak berdesir bagai terkurung
_
Sesaat kemudian ricik hujan jatuh tak terhitung
Kian menambah kesunyian sang malam
Sunyi seakan menjerat raga bak berkalung
Menggigit juga Sukma yang mencekam
_
Lidah-lidah lonceng terus memukul sunyi
Seiring ricik hujan yang kian tak terbilang
Jatuh pada jalan berlubang merengkuh sepi
Hingga sampai pada muara, tak lagi terhalang
_
Kini, hujan malam yang kelabu
Membawa segenap gundah gulana
Menyeret juga debu-debu
Pada akhirnya semua yang kelam, sirna
**
Gambar diambil dari :
**(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
