Duka di matamu
Menatap matamu bagai telaga bening
Yang teduh dipandang, saat fajar menjelang
Namun, kulihat sepotong duka di matamu
Menyiratkan kepahitan hidup yang bertandang
_
Duka itu mengalirkan air mata
Bak air yang jernih mengalir dari celah
Batu-batu yang besar hingga sampai pada muara
Muara yang saat senja, terlihat indah
_
Duka itu pun menjalar, kemudian merambat ke hatimu
Membuat hati diselimuti kemuraman
Membayang dalam wajah ayu
Bagai purnama ditutupi oleh awan kelam
_
Kini, duka itu tak terlihat lagi
Engkau basuh duka itu dengan embun pagi
Mata dan wajahmu terlihat kembali cerah
Sampai akhirnya meniti hari dengan indah
**
# Menulis hari ke-146#
Natuna, 28042021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
