Purcahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Duka di matamu

Duka di matamu

Menatap matamu bagai telaga bening

Yang teduh dipandang, saat fajar menjelang

Namun, kulihat sepotong duka di matamu

Menyiratkan kepahitan hidup yang bertandang

_

Duka itu mengalirkan air mata

Bak air yang jernih mengalir dari celah

Batu-batu yang besar hingga sampai pada muara

Muara yang saat senja, terlihat indah

_

Duka itu pun menjalar, kemudian merambat ke hatimu

Membuat hati diselimuti kemuraman

Membayang dalam wajah ayu

Bagai purnama ditutupi oleh awan kelam

_

Kini, duka itu tak terlihat lagi

Engkau basuh duka itu dengan embun pagi

Mata dan wajahmu terlihat kembali cerah

Sampai akhirnya meniti hari dengan indah

**

# Menulis hari ke-146#

Natuna, 28042021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post