Pada bilik kalbu
Kita tak dapat menghitung ricik hujan yang jatuh
Pada tanah yang kering retak di sebuah taman hati
Menjadikan tanah itu basah, hingga kering menjauh
Menumbuhkan benih-benih cinta yang subur lagi
_
Kita tak mampu menghitung daun yang luruh
Pada sebuah reranting yang layu akibat kemarau yang mendekap
Hingga wajah bumi disirami oleh hujan yang berlabuh
Merimbunkan dedaunan hijau yang menyesap
_
Kita tak sanggup menghitung butir-butir air hujan
Yang menggenangi telaga rindu pada bilik kalbu
Membuat bilik kalbu itu melahirkan bulir-bulir kerinduan
Hingga telaga itu meluap, menepis segala pilu
_
Hujan selalu dirindu dalam setiap untaian masa
Dalam musim yang silih berganti tak kenal waktu
Ia selalu meneduhkan hati yang penuh lara
Dan ia senantiasa menyejukkan kalbu yang merindu
**
# Tagur hari ke-155 #
Natuna, 07052021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
