Purcahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pada bilik kalbu

Pada bilik kalbu

Kita tak dapat menghitung ricik hujan yang jatuh

Pada tanah yang kering retak di sebuah taman hati

Menjadikan tanah itu basah, hingga kering menjauh

Menumbuhkan benih-benih cinta yang subur lagi

_

Kita tak mampu menghitung daun yang luruh

Pada sebuah reranting yang layu akibat kemarau yang mendekap

Hingga wajah bumi disirami oleh hujan yang berlabuh

Merimbunkan dedaunan hijau yang menyesap

_

Kita tak sanggup menghitung butir-butir air hujan

Yang menggenangi telaga rindu pada bilik kalbu

Membuat bilik kalbu itu melahirkan bulir-bulir kerinduan

Hingga telaga itu meluap, menepis segala pilu

_

Hujan selalu dirindu dalam setiap untaian masa

Dalam musim yang silih berganti tak kenal waktu

Ia selalu meneduhkan hati yang penuh lara

Dan ia senantiasa menyejukkan kalbu yang merindu

**

# Tagur hari ke-155 #

Natuna, 07052021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post