Daun Yang Terakhir
Selembar daun pada sebuah reranting
Ia merupakan daun yang terakhir
Dan ia mencoba bertahan tak bergeming
Walaupun harus menepis cobaan tiada akhir
_
Saat musim kemarau singgah
Telah banyak menggugurkan dedaunan
Begitupun sewaktu musim hujan bertandang
Pun menyeret yang ada tak berkesudahan
_
Seakan semua sudah tercatat dalam almanak
Seolah tak dapat berkelit dari untaian masa
Dan daun itu pun tak kuasa menolak
Ketika selarik pawana yang lembut menyapanya
_
Ia pun luruh, jatuh ke bumi
Menggeletak, kemudian tanah yang kering
Telah menguburnya dengan bersedih hati
Dan kita telah mencatatnya, sebagai daun terakhir
**
# Tagur hari ke-194 #
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
