Seorang penjual keliling
Tiada yang lebih sabar dari seorang penjual keliling
Dijajakannya beberapa barang yang berharga
Menyusuri jalan-jalan setapak sepi tak berpaling
Ia teguh tak pernah berputus asa
_
Ketika Matahari membakar raganya
Ia tak menghiraukan sekalipun
Terus ia melangkahkan kakinya
Yang kian lama semakin gontai tak terampun
_
Namun, ia senantiasa menggantungkan asa
Setinggi awan yang cerah di angkasa
Mengharap setetes rejeki dari sang pencipta
Sebagaimana seekor burung mencari ulat yang terlena
_
Hingga lelah semakin merayapi hari
Keinginan pun tak mampu lagi menopang raga
Ia segera beranjak pergi menuju persinggahan hati
Dimana telah menunggu anak istri dengan setia
**
# Tagur hari ke-184 #
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
