Di antara Tangis Langit
Rintik hujan jatuh satu-satu pada genting kemudian turun pada halaman rumah
Kian lama semakin deras seiring dengan gemuruh yang berkecamuk dalam hati
Suaranya seperti menabuh ngilu yang berulang kulipat dalam ingatan
Tanpa kusadari telah kuseka kedua mata yang tiba-tiba basah
_
Dalam lebatnya hujan ada sekelebat wajah yang selalu datang tersenyum
Wajah yang sangat kukenal, wajah ibu , benarkah engkau ibu ?
Di antara tumpahan hujan, siluet wajahmu tampak jelas
Wanita yang senantiasa kurindu, tak penah kulupakan barang sekejap pun, engkau datang ibu ?
-
Ibu, aku masih disini melukis wajahmu yang tabah dengan kenangan yang tak terlupakan
Menyimpannya dalam jelaga malam, agar engkau tak pernah hilang dalam relung atma
Tak ingin rapuh dengan mengingatmu, namun menjadi penguat diri untuk selalu mengenangmu
Serasa engkau menghampiriku, kemudian mengecup kening bagai seperti aku kecil dulu
_
Kuingin terus membaitkan doa tiada henti, seperti tangisan langit yang terus mengiris bumi
Hingga bayangmu sirna seiring hujan yang kian reda meninggalkan sepenggal kenang
Namun telah engkau tinggalkan sesuatu yang berharga di dalam hatiku
Sebuah petuahmu " jangan pernah menyerah, meski dunia telah berubah "
***
Tagur hari ke-333
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
