Menikam Rindu
Tak terbilang waktu ia lalui untuk merawat rindu yang patah dari potongan tabah dalam penjara suci
Sedang pada sudut hatinya menggores bait-bait puisi dari ribuan diksi yang mengeram dalam rahim rindu
Yang entah sampai kapan harus ia lewati rindu yang menjerat raga dan pikirannya
Hanya pada gelinang senja ia berbisik “ sampai kapan rindu ini menetas temu ? “
-
Ketika senja berangsur pudar menyambut sang malam yang membawa kesunyian
Ia titipkan perih itu pada angin malam yang menyapanya lewat celah-celah kerinduan
Berharap sangat agar sang purnama hadir di hadapannya atau paling tidak dalam mimpi panjangnya
Mungkin saja rindu itu telah menjelma sang bulan
-
Dan malam pun semakin menua bersama senandung burung malam
Yang menembangkan bait-bait rindu menelusup lewat jeruji kesabaran
Seiring malam beringsut lenyap membawanya pergi, menikam rindu berkali-kali di bilik paling sepi
Hingga engkau datang bersama sang surya
***
Tagur hari ke-324
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
