Duka Semeru
Selembar daun jati kering masih mencoba bertahan di ujung ranting
Entah kemudian luruh menempel di udara
Dan melayang jatuh rebah pada tanah yang kering
Tiada yang dapat menghalanginya
-
Sepasang burung pada dahan pohon yang rimbun
Tiba-tiba terbang tak tentu arah di angkasa
Meninggalkan istana yang telah susah payah dibuatnya
Tempat ia mengeram telur-telur puisi
-
Begitupun hewan-hewan melata merambat pergi
Saling berebutan menuruni lereng-lereng kehidupannya
Tak tahu harus kemana arah yang di tuju
Sekedar hanya untuk menyelamatkan diri
-
Semua terasa cepat, tiada yang dapat menerka atau mengetahui datangnya
Sekejap kemudian suara bergemuruh mengetuk dinding jiwa
Hawa yang berubah menjadi panas mendekap raga
Berguguranlah kaldera di bagian atas
-
Alam selalu mempunyai kuasa
Dan mahameru adalah salah satu titah Sang Pencipta atas duka yang menghampiri
Gumpalan awan panas menerjang semua ruang
Ia merupakan sebentuk cinta Tuhan untuk menyapa kita yang mungkin saja telah lalai
-
Alam senantiasa mempunyai caranya sendiri
Untuk sekedar menegur kita semua
Sebagai wujud kasih sayang-Nya
Bahwa kita semua mesti berbenah
dan duka sekedar hanya kesedihan yang sementara
***
Tagur hari ke-375
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
