Purcahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Duka Semeru

Duka Semeru

Selembar daun jati kering masih mencoba bertahan di ujung ranting

Entah kemudian luruh menempel di udara

Dan melayang jatuh rebah pada tanah yang kering

Tiada yang dapat menghalanginya

-

Sepasang burung pada dahan pohon yang rimbun

Tiba-tiba terbang tak tentu arah di angkasa

Meninggalkan istana yang telah susah payah dibuatnya

Tempat ia mengeram telur-telur puisi

-

Begitupun hewan-hewan melata merambat pergi

Saling berebutan menuruni lereng-lereng kehidupannya

Tak tahu harus kemana arah yang di tuju

Sekedar hanya untuk menyelamatkan diri

-

Semua terasa cepat, tiada yang dapat menerka atau mengetahui datangnya

Sekejap kemudian suara bergemuruh mengetuk dinding jiwa

Hawa yang berubah menjadi panas mendekap raga

Berguguranlah kaldera di bagian atas

-

Alam selalu mempunyai kuasa

Dan mahameru adalah salah satu titah Sang Pencipta atas duka yang menghampiri

Gumpalan awan panas menerjang semua ruang

Ia merupakan sebentuk cinta Tuhan untuk menyapa kita yang mungkin saja telah lalai

-

Alam senantiasa mempunyai caranya sendiri

Untuk sekedar menegur kita semua

Sebagai wujud kasih sayang-Nya

Bahwa kita semua mesti berbenah

dan duka sekedar hanya kesedihan yang sementara

***

Tagur hari ke-375

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post