Sebuah Kerinduan
Wajah polos itu terlihat murung, dilipatnya kesedihan itu ke dalam dadanya. Sesaat setelah ia menerima berita pandemi merebak dan mengharuskan ia belajar dari rumah.
Tak lagi ia melihat wajah bijak sang guru dengan segala petuahnya. Tiada lagi ia bertemu wajah-wajah lugu dengan senda guraunya.
Kini ia lewati waktu di depan layar HP, jari-jari mungilnya menari-nari di antara deretan abjad. Terkadang ia tak mengerti apa yang harus dikerjakan. Ia pun bertanya pada sang bunda atau sang ayah.
Akhirnya waktu telah membawa kerinduannya kepada sekolah. Bendera di tiang yang tegak berdiri melambai-lambai mengajak ia untuk upacara, bangku dan meja yang berdebu menanti tangan-tangan kecil untuk mengusapnya, bunga-bunga di halaman sekolah memendam rindu menyaksikan sebuah keceriaan.
***
# 437
Tagur hari ke-41
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
