Purcahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Nyanyian Cakrawala

Sebatang pinus tua tak pernah mengutuk takdirnya berdiri di puncak tebing yang sunyi.

Ia menerima titah angin baratan yang acap merontokkan jemari hijaunya.

Ketika badai meletupkan gemuruh malam, ia menjadikannya kidung ketabahan.

Awan-awan kelam datang melipur lara sebagai kelana karib, lalu beringsut pergi menyisakan ruang hampa yang pekat.

Namun menembus pekat itu, ia tetap tegak memahat langit, sebab ia tahu, kemilau bintang-bintang terjauh hanya akan tampak ketika sunyi telah memeluk puncak paling sunyi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post