Rahmat Nurdin, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Jiwa yang Hilang II

Jiwa yang Hilang II

"Mencari sesuatu yang hilang, padahal dia tidak pergi jauh darimu. Lenyapkan yang nyata niscaya kamu akan menemukannya"

Selagi jiwa masih terikat dengan kehidupan, pekerjaan, harta benda, kecantikan, maka selama itu pula jiwa akan kehilangan hakikatnya. Melepaskan keterikan itu tidak mesti berhenti dari pekerjaan, atau membuang harta, tapi tidak meletakkannya di dalam jiwa. Sebab

Kehidupan yang sedang kita jalani sekarang, bukan semata ditopang oleh fisik yang kuat atau badan yang sehat, kalau kita kaji dalam kajian tasawuf fisik itu tidak ada arti apa-apa, ia hanyalah ibarat sarang sangkar, apabila isinya pergi maka sangkar itu tidak memiliki arti lagi.

Seperti itulah permisalan orang yang dalam hidupnya kehilangan ruh kehidupannya, berapapun gagah dan cantiknya fisik, maka itu tidak ada nilainya, artinya nilai kehidupan kita ini bukan pada fisik, bukan pada harta benda yang di miliki. Tapi pada ruh, sebab ruh inilah hakikat dari kehidupan kita yang sesungguhnya.

Kita sering mendengar orang bicara, cantik-cantik kok maling, itu berarti ruh kecantikan hilang dari dalam dirinya, orang yang enggan untuk melaksanakan atau banyak malasnya sholat, berarti ruh sholat belum ia dapatkan, kalaupun ia sholat, maka perbuatan-perbuatan maksiat lain akan tetap ia lakukan. Betapa banyak hal ini kita saksikan hari ini, ringkasnya sholatnya belum mampu mencegah ia dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Karena ruh yang menghidupkan sholat itu yang belum ia dapatkan.

Kalau kita lihat saat ini amal kita sangat banyak dari sisi kuantitas, namun nihil dari kualitas. Allah tidak semata melihat amal seseorang dari segi kuantitas, tapi yang Allah lihat itu adalah kualitas (keikhlasan) dalam melakukannya. Dalam hal ini kita sering mendengar kalam "Allah sangat senang dengan amalan yang dikerjakan terus-menerus walaupun sedikit dari pada amalan yang banyak tapi tidak istiqomah.

Orang yang beramal seperti ini akan lelah dengan sendirinya, dan pada akhir jenuh dalam beramal, karena hilangnya ruh dari setiap amalan itu, kebanyakan amalnya hanya untuk pamer, ingin ini dan itu, kalau dihadapan orang banyak bertambah taatnya, dan kalau tidak ada orang maka ia tidak melakukan apa-apa, bahkan cenderung melakukan maksiat.

Kehilangan ruh dari setiap amalan sama saja dengan buih di lautan, banyak tapi tidak dapat diharapkan. Kita tentu masih ingat orang yang membunuh sahabat mulai Rasulullah yang di jamin surga untuknya, beliau Imam Ali Bin Abu Thalib, beliau ditikam oleh orang yang hafal akan Al-quran, ahli ibadah, dan pembunuhan yang dilakukannya begitu sadis, sebabnya adalah amalan yang dia lakukan tidak memiliki ruh, sehingga tidak menyentuh relung qalbunya.

Begitupun dengan diri kita, terkadang meneteskan air mata, teringat begitu banyak maksiat yang kita lakukan. Namun tidak lama setelah itu, begitu mudahnya kita mengakses maksiat yang ada dalam genggaman kita, artinya maksiat mata yang tidak dapat kita bendung.

Lalu untuk apa air mata tadi, untuk siapa penyesalan itu? Semuanya adalah kemunafikan, di luar seperti buya di dalam seperti buaya, penuh dengan kepalsuan, mungkinkah kita menemukan ruh kehidupan? Kehidupan yang tidak terkontaminasi oleh kemunafikan, mungkinkah jiwa ini kembali pada Tuhan, sebagaimana yang dijanjikan.

"Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhan dalam keadaan Redha dan diredhai"? Rasanya untuk mendapatkan ini, Hanya mengharapkan Rahmat Allah, kalau dengan amal rasa mustahil sebab amal selalu bercampur aduk antara yang haq dengan yang bathil, walaupun Tuhan dengan tegas telah menjelaskan "jangan kamu campur adukkan antara yang dengan yang bathil". Tapi dasarnya kita sebagai manusia, hidup lebih banyak mengikuti hawa nafsu, ego, amarah, dengki, yang semua itu adalah alat tunggangan syetan yang paling empuk.

Kita tidak akan bisa menghindar dari rayuan dan godaan syaitan, kecuali kita mengingat dan memahami kembali, bagaimana perjanjian Allah dengan syetan dulu, sebelum dia Allah SWT usir dari surga.

Hanya orang-orang yang ikhlas yang akan dapat memahami dan menghindar dari rayuan syetan, bahkan syetan tidak mampu merayunya dengan cara apapun, bahkan yang lebih hebat lagi syetan itu takut dengannya, sebagaimana takutnya syetan pada khalifatul rasul yaitu Saidina Umar Bin Khattab.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post