Kepatuhan vs Kekangan
Makna dari kedua kata tersebut pada dasarnya menunjukkan makna ganda yang pertama bersifat positif dan kedua bermakna negatif, kepatuhan berarti menjalankan semua aturan tanpa perlawanan, kalau ada yang membantah berarti tidak taat aturan, padahal belum tentu yang membantah tidak taat aturan?
Kekangan berarti membatasi ruang gerak, dibatasi bergerak secara fisik atau bergerak dalam pemikiran. Dalam dunia kerja bawahan yang patuh aturan, maka mereka akan dikatakan sebagai orang yang berprestasi, tepat waktu, disiplin dalam bekerja serta memiliki loyalitas terhadap pekerjaannya. Tapi sadarkah kita? Bahwa sesungguhnya kita sedang dibentuk oleh sistem, bekerja menjalankan sistem tak ubah seperti robot, balutan sistem itu sangat halus dan lembut yaitu atas nama moral dan etika.
Orang yang tidak taat, melanggar aturan maka akan dicap sebagai kurang etika dan adab, maka siap-siap dikucilkan dari pekerjaan atau terdepak dari dunia kerja. Pola-pola seperti ini sudah ada dan tertanam kuat dalam pemikiran bangsa kita jauh sebelum Indonesia merdeka, pola ini di bawa oleh penjajah dan mereka berhasil menancapkan pola ini, walaupun mereka tidak lagi menjajah secara fisik, namun penjajahan mereka terus berlanjut yaitu menjajah dengan pemikiran.
Ini mungkin yang sering disebut orang "luka tak berdarah" Yang lebih halus lagi penjajahannya adalah dalam dunia pendidikan, dibentuk kurikulum dilapisi dengan kata-kata indah, maju mundur nya sebuah negara tergantung pendidikan nya. Namun itu, hanyalah slogan untuk kepentingan politik dan bisnis.
Pendidikan di sekolah kaku dan baku, sekolah mencetak manusia untuk bekerja bukan untuk berfikir, sekolah seperti sebuah pabrik, semua bekerja sop, masuk dan pulang sesuai jam yang telah ditentukan, disiplin ketat, aturan mesti dijalankan bersama, katanya untuk keseragaman. Setiap hari, minggu, bulan dan tahun menjalani rutinitas dalam keseragaman. Yang melanggar siap-siap dikeluarkan dan dicap sebagai orang yang tidak ada adab dan akhlak.
Sesungguhnya selama ini kita berada dan menjalankan sistem yang di buat oleh penjajah. Sistem yang selama ini, terutama sistem pendidikan yang kita anggap sudah baik dan akan melahirkan generasi emas 2045, ternyata bukan original punya kita, saya hanya bisa merasakan mungkin kita juga merasakan bagaimana berbelit-belitnya sistem pendidikan kita, karena dipengaruhi oleh kepentingan punguasa dan kepentingan politik.
Kepatuhan adalah sebuah kemestian bagi kita, jika tidak maka siap-siap hidup dalam kekangan. Sekolah tidak lagi melahirkan orang-orang pintar secara spitual dan emosional, namun melahirkan orang-orang yang siap untuk bekerja di berbagai instansi pemerintahan, ini dulu yang diajarkan oleh penjajah di sekolah-sekolah sampai sekarang masih terjadi yang berubah hanyalah casingnya hakikatnya tetap sama.
Tidak terhitung berapa banyak orang-orang pintar di negeri kita ini, apa yang mereka lakukan? Apakah kehidupan kita bertambah nyaman, aman? Tidak ada rasa khawatir motor akan hilang apabila diparkir di jalanan, begitupun apabila datang ke kantor polisi membawa pengaduan akan diselesaikan dengan baik, tanpa ada rasa takut akan dibentak-bentak? Bukankah mereka itu semua orang-orang pintar, lulusan-lususan terbaik di waktu sekolah dulu, tapi kok tidak ada rasa aman dan nyaman?
Persoalannya hanya sederhana mereka dibentuk oleh sistem, bukan dibentuk oleh alam, bahkan yang lebih parah lagi mereka paksa alam memenuhi kehendak mereka, mereka melawan hukum alam, ini adalah kegilaan yang diorganisir. Hari ini apa yang kita terima dan rasakan adalah hasil dari pendidikan 10-15 tahun yang lalu.
Secara kasat mata tidak ada yang salah dengan kepatuhan pada aturan. Namun yang perlu kita selami dan dalami bersama adalah dari mana semua awal kepatuhan, kepatuhan yang tidak dapat memfungsikan akal dengan jernih ibarat TV yang dikendalikan oleh remote.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan