Memulai Dengan Makna Berakhir Dengan Rasa
Sudah sangat banyak kita melantunkan doa, rasanya mungkin sudah tidak terhitung lagi, tapi doa itu belum juga kita dapatkan hasilnya, begitupun dengan membaca Al-quran mungkin sudah berjuz-juz Al-quran kita tamatkan dalam membacanya atau bisa jadi kita sudah hafal 30 juz, tapi rasanya hidup kok masih terasa sempit.
Mari kita baca kisah di bawah ini dengan makna dan rasa.
Seorang murid mengadukan kepada gurunya tentang doa-doa yang selalu di bacanya, namun sampai detik ini Allah belum juga mengabulkan do'anya.
Malam itu sunyi. Lampu surau hanya satu yang menyala. Seorang murid duduk gemetar di hadapan gurunya.
Murid: “Guru… aku sudah membaca banyak doa. Tapi mengapa hatiku masih takut Hidupku masih gelap…” Sang guru menatapnya lama, seolah menembus jiwanya.
Guru: “Karena kau membaca dengan lidah, bukan dengan rasa.” Murid terdiam.
Guru lalu melantunkan dengan suara bergetar namun penuh wibawa- بِسْمِ اللهِ الشَّافِي بِسْمِ اللهِ الْكَافِي بِسْمِ اللهِ الْمُعَافِي بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ Udara terasa berubah.
Guru: “Dengar baik-baik maknanya, bukan sekadar terjemahannya… tapi hakikatnya.”
Murid: “Apa hakikatnya, Guru”
Guru: “Bismillāhis Syāfī… Dengan Nama Allah Yang Maha Menyembuhkan.
Artinya- bukan obat yang menyembuhkanmu. Bukan dokter. Bukan waktu. Tapi DIA.” Murid menelan ludah.
“Bissilahi khafi” … Allah Yang Maha Mencukupi. Artinya- saat seluruh dunia meninggalkanmu… satu Nama ini saja cukup menegakkan hidupmu kembali.” Mata murid mulai basah. “Bismillahil Mu'afi… Allah Yang memberi keselamatan lahir dan batin. Bukan hanya badanmu yang dilindungi… tapi juga hatimu, pikiranmu, takdirmu.” Guru mendekat.
“Dan ini puncaknya…” suara guru merendah, namun justru lebih menghantam-
بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dengan Nama Allah yang bersama-Nya tidak ada satu pun bahaya di bumi maupun di langit yang mampu menyentuhmu…” Murid terisak.
Murid: “Jadi… jika aku benar-benar bersama Nama ini…
Guru: “Bukan dunia yang menguasaimu. Bukan manusia yang melukaimu. Bukan takdir yang menekanmu. Karena engkau sedang berada di bawah penjagaan langsung Tuhan semesta alam.” Hening panjang.
Guru: “Masalahmu bukan kurang doa… Masalahmu- kau belum bersandar sepenuhnya.” Murid menunduk. Tangannya gemetar.
Murid: “Ajari aku, Guru… bagaimana membaca Bismillah sampai terasa…” Guru tersenyum tipis.
Guru: “Baca bukan untuk meminta. Baca bukan karena takut. Baca karena hatimu benar-benar pulang kepada-Nya. Saat itu.....Bismillah bukan lagi kalimat. Ia menjadi perisai. Ia menjadi cahaya. Ia menjadi kekuatan yang bahkan takdir pun tunduk padanya.” Air mata murid jatuh tanpa bisa ditahan. Dan malam itu… bukan hanya surau yang terang. Tapi sebuah hati telah dinyalakan dg cahaya ilahi.
Baru tentang memaknai dan merasakan Bismillah... Bukankah kalimat ini, setiap saat kita baca, mari kita renungkan dan kita dalami kalimat ini. Dan masih ada ribuan lagi ayat yang ada di dalam Al-quran, benarlah adanya apa yang disampaikan para ahli ilmu "Isi kandungan al-quran itu ibarat menimba air lautan" Tidak akan pernah habisnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
