Rahmat Nurdin, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menilai Guru Bukan Hak Santri

Menilai Guru Bukan Hak Santri

Dalam dunia pendidikan modern, strategi dan metode pendidikan terus dikembangkan untuk menemukan formulasi yang tepat agar pendidikan sebuah lembaga atau pendidikan suatu negara lebih baik dari sebelumnya. Para ahli dengan berbagai teori mencoba untuk mengaplikasikan metodenya tersebut, tentunya dengan bantuan semua stakeholder yang memiliki kepentingan dalam dunia pendidikan.

Hal ini tentu menjadi kabar gembira dalam dunia pendidikan karena selalu ada terobosan-terobosan baru. Namun perlu juga kita ingat dunia pendidikan kita, terutama pendidikan islam tidak bisa disamakan dengan pendidikan barat, pendidikan islam memiliki karakter tersendiri, mulai dari kurikulumnya sampai pada budayanya.

Dalam pendidikan sekarang, guru tidak dianggap lagi sebagai satu-satunya sebagai sumber ilmu, di dalam prakteknya tidak lagi sebagai study center tapi sebagai moderator pembelajaran berpusat pada siswa. Tentu pendapat tersebut telah melalui kajian yang matang dengan tujuan untuk kemajuan pendidikan.

Ada kelebihan sudah pasti, tentu juga tidak luput dari kekurangan. Guru sebagai pendidik secara umum kehilangan pawer dalam mendidik, terutama dalam komunikasi, banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh guru sebabnya terikat oleh kurikulum. Kurikulum mesti berjalan sesuai dengan titih dari pusat, bagaimanapun cara, alasannya untuk kemajuan pendidikan, sehingga di tingkat dasar guru pontang panting sesuatu yang belum dimengertinya.

Ya untuk sekolah yang berada di bawah bimbingan pemerintah okelah, mau tak mau guru mesti ikut atasan masalah dana dan kesejahteraan dicukupi. Bagaimana dengan sekolah-sekolah swasta? Apalagi pondok pesantren sebagai basis pengkaderan ulama.

Pondok pesantren sebagaimana kita ketahui dari dulu adalah benteng penyelamat generasi dari berbagai amukan modernisasi yang datang dari barat. Untuk itu, pesantren memang harus mandiri, tidak boleh ada intervensi terhadap pesantren, mengakui atau menyetarakan lulusan pesantren dengan sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan pemerintah.

Dari sinilah kita mengawali pembicaraan budaya pendidikan islam memang berbeda dengan budaya pendidikan secara umum, terutama pendidikan islam yang ada di pesantren, dalam pendidikan pesantren terkenal dengan budaya "adab diatas ilmu" Jadi tidak ada istilah penilaian santri terhadap gurunya, di sebahagian pesantren karena mengikuti trend pendidikan luar, juga ikut latah dengan istilah itu.

Ingat belajar di dipesantren bukan hanya persolan nilai tinggi dan rendah tapi belajar bagaimana hidup memiliki adab, kalau pesantren dalam hal kecil seperti ini sudah sering offsed, entah apa yang akan terjadi dengan generasi islam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post