Sederhana dalam Bertindak
Sederhana dalam Bertindak
Di tulisan sebelumya kita sudah membicarakan sederhana dalam berbicara dengan argumen yang tegas dan jelas dari Nabi, kelanjutan dari perkataan Nabi tersebut adalah "barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang yang beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan memuliakan tamunya" Lebih lengkapnya hasilnya sebagai berikut:
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم: (مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِالله وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِالله وَاْليَومِ الآخِرِ فَلا يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِالله واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. al Bukhari dan Muslim)
Dari mana kita dapat memaknai hadis ini sederhana dalam bertindak? Ya tentu dari kalimat yang pertama "jika tidak mampu mengatakan perkataan yang baik maka hendaklah ia diam" Perkataan Nabi tidak memiliki satu atau dua makna saja, tetapi memiliki makna dan pemahaman yang lebih banyak, tergantung dari kesucian hati kita dalam membacanya.
Semakin kita menemukan rasa dalam membaca kalam-kalam nabi atau hadis-hadis Nabi, maka akan semakin banyak kita menemukan makna yang tersurat ataupun yang tersirat dari perkataan Nabi SAW.
Nabi adalah contoh teladan yang paling sempurna tentu dalam hal ini kesederhanaan dalam bertindak. Yang kita maksud bertindak di sini, terlalu banyak gaya dalam kehidupan, terlalu aktif dalam berbagai hal. Nabi adalah orang yang paling memperhatikan akan gaya dan styale beliau, tapi beliau tidak pernah berlebihan dalam hal itu.
Oh mungkin kita beranggapan Nabi bergaya hidup sederhana karena beliau tidak memiliki banyak barang. Anggapan kita yang seperti ini, menunjukkan kurang adabnya kita pada Nabi kita, atau bisa jadi kita hanya membaca sejarah yang tertulis saja.
Dunia dan isinya ini adalah milik Nabi, yang ada dilangit dan di bumi, ada dan hidup karena pancaran Nur Nabi, tapi ternyata beliau hidup dalam kesederhanaan, jawaban inilah yang mesti kita cari dan ingat jawabannya tidak banyak kita temukan dalam teks-teks sejarah.
Jadi mulai sekarang jauh sangka kita pada Nabi Muhammad SAW bahwa beliau adalah Nabi yang miskin. Kita yang miskin dari mempelajari dan memahami Nabi kita.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan