Rahmat Nurdin, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Wali Allah dan Pendosa

Baghdad kala itu adalah pusat ilmu peradaban. Kota yang ramai oleh ulama, pedagang, dan penuntut ilmu. Di salah satu sudut kota, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, seorang ulama besar yang terkenal dengan ilmu, wibawa, dan ketakwaannya, berjalan bersama murid-muridnya menuju sebuah majelis ilmu.

Di sepanjang jalan, orang-orang memberi salam penuh hormat, sebagian mencium tangan beliau, sebagian merunduk takzim. Murid-murid yang mengiringinya pun merasa bangga dapat mendampingi seorang wali yang masyhur di seluruh Baghdad.

Dalam perjalanan itu, dari arah berlawanan muncul seorang pemabuk berat. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya gontai, dan bau minuman keras menyengat udara. Orang-orang segera menjauh dengan rasa jijik, sebagian memaki, sebagian mencibir. Namun langkah pemabuk itu justru mendekat ke arah Syeikh Abdul Qadir. Murid-murid bereaksi cepat.

"Guru, izinkan kami menjauhkan orang ini, ia bisa mengganggu perjalanan kita," kata seorang murid.

Syeikh Abdul Qadir mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka diam. Wajah beliau teduh, memandang pemabuk itu bukan dengan benci, melainkan belas kasih, seakan melihat cahaya fitrah yang masih tersisa dalam dirinya.

Pemabuk itu berhenti di depan Syeikh Abdul Qadir, berdiri terhuyung-huyung. Dengan suara berat, ia bertanya:

"Wahai Abdul Qadir, aku ingin bertanya. Apakah Allah itu Maha Kuasa?"

Murid-murid terkejut. Pertanyaan itu terdengar lancang. Namun Syeikh Abdul Qadir tersenyum lembut dan menjawab bijak :

"Tentu saja, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang luput dari kehendak-Nya."

Pemabuk itu terdiam sejenak,

lalu bertanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih serius, matanya berkaca-kaса:

"Kalau begitu... apakah Allah mampu

mengampuni dosa-dosaku yang begitu banyak? Aku bergelimang maksiat, meminum khamar, melakukan perbuatan keji, dan jauh dari-Nya. Masihkah ada ampunan bagiku?"

Syeikh Abdul Qadir menjawab dengan penuh kelembutan :

"Benar, Allah Maha Pengampun. Jika engkau datang kepada-Nya dengan hati yang tulus dan bertaubat sungguh-sungguh, dosa sebesar apa pun akan diampuni. Bahkan jika dosamu seluas lautan, Allah akan menghapusnya"

Pemabuk itu terisak. Tubuhnya gemetar. Setelah menarik napas panjang, ia mengajukan pertanyaan ketiga yang mengguncang suasana:

"Kalau begitu... wahai Abdul Qadir, apakah Allah mampu mengubahmu menjadi ahli maksiat sepertiku, dan menjadikanku orang mulia sepertimu?"

Sejenak suasana hening. Murid-murid memandang dengan marah, menganggap itu penghinaan. Namun Syeikh Abdul Qadir tiba-tiba

pucat, matanya basah, lalu air mata mengalir di pipinya. Dalam sekejap, beliau tersungkur sujud di tanah. Tangisannya pecah, tubuhnya terguncang hebat. Murid-murid terdiam, tidak mengerti apa yang terjadi.

Di sela tangisnya, beliau berkata:

"Wahai murid-muridku... ketahuilah, pertanyaan ini mengguncang hatiku. Semua keadaan manusia sepenuhnya di tangan Allah. Jika Allah berkehendak, Dia bisa meninggikan seorang ahli maksiat menjadi wali, dan merendahkan seorang alim menjadi hina dalam sekejap"

Tangisnya semakin pecah. Beliau merasa takut dan rendah di hadapan Allah, sadar betapa lemahnya manusia dan betapa Allah Maha Berkuasa membolak-balikkan hati. Murid-murid yang menyaksikannya ikut menangis, merasakan ketakutan yang sama.

Melihat itu, pemabuk pun ikut menangis sejadi-jadinya. Dengan suara parau ia berkata:

"Wahai Syeikh, aku bertaubat! Demi Allah yang Maha Kuasa, aku ingin meninggalkan dosaku dan kembali kepada-Nya!"

Syeikh Abdul Qadir bangkit, lalu

memeluk pemabuk itu erat. Air mata keduanya bercampur. Beliau membimbingnya mengucapkan kalimat taubat dan mengajarinya doa memohon ampunan. Semua murid yang menyaksikan peristiwa itu tak mampu menahan tangis mereka.

Sejak hari itu, pemabuk itu benar-benar berubah. la meninggalkan minuman keras, mulai menuntut ilmu, dan beribadah dengan tekun. Orang yang tadinya dipandang hina kini menjadi teladan di lingkungannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post