Rahmat Nurdin, M. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mulailah

Apa yang terbayang olehmu ketika kata mulai di tujukan padamu? Tentu kita akan menterjemahkan sesuai dengan konteks atau situasi yang sedang kita hadapi pada saat itu. Tepat sekali, memulai sesuatu mesti tepat sasaran, agar berakhir dengan nilai atau kebaikan yang sempurna.

Kata "mulai" Memiliki banyak padanan Dalam bahasa arab yaitu: (bada'a) mulai, fi'l madi, (mulailah, sedang memulai, akan memulai. Dll.

Yang menjadi pembahasan kita adalah mulailah, apa yang harus dimulai, dari mana memulainya, bagaimana cara memulainya. Pertanyaan ini sederhana, namun ketika seseorang akan mengerjakan suatu pekerjaan, pasti awalnya itu "mulai".

Apa yang harus di mulai? Mulai dari yang paling mudah, sebab memulai suatu pekerjaan melibatkan semua kekuatan, pikiran, dan juga tenaga, jika memulai tidak dengan cara yang tepat, di sinilah kita sering mengatakan " Sudah mencoba berbagai cara namun tetap juga gagal, karena cara memulainya kurang tepat atau tidak tepat sama sekali, makanya gagal.

Mulai meninggalkan dosa, orang yang sudah berusaha dengan segenap daya dan upayanya dalam meninggalkan maksiat, mulai menata diri, mulai merencanakan amal terbaik, dan ternyata dosa yang sama terulang lagi, lalu kita bertanya apa yang salah? Apakah Tuhan tidak lagi memandang saya?

Salahnya adalah cara memulai, nafsu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya terlalu besar, sehingga lupa pondasi awal yang menjadi benteng pelindung diri, jika pondasi awal sudah rapuh, betapapun matangnya perencanaan akan sangat sulit untuk tujuan/berhasil.

Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa kita sulit untuk memulai. Secara garis besarnya terdapat dua faktor, internal dan eksternal,

Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri sendiri. Kenapa kita malas untuk mulai membaca buku agak 5 halaman sehari? Karena kita tidak membiasakan otak untuk itu, selama ini otak kita selalu kita beri nutrisi dengan sesuatu yang instan dan kesenangan sesaat.

Sehingga Otak kita menjadi lemot dengan sesuatu yang instan, karena sudah terbiasa dengan sesuatu yang instan, contoh kecil kita bentah main scrolling tik tok, fb, IG satu sampai dua jam, sebabnya di otak sudah tertanam kesenangan media sosial, apalagi kalau sudah kecanduan, itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

Jadi untuk memulai pekerjaan lain yang lebih banyak manfaatnya menjadi sulit. Untuk dapat keluar dari masalah ini, menyadari bahwa kebutuhan otak kita bukanlah untuk hal-hal receh seperti ini, kesadaran ini mesti kita mulai, dengan cara membiasakan membaca buku sedikit demi sedikit.

Memang tantangan kita hari ini lebih berat, dengan kemajuan dunia sosial yang lebih masif, kita tidak menafikan itu semua, tapi kita punya kemampuan untuk mengendalikannya.

Faktor eksternal yaitu keluarga, masyarakat dan tempat kerja juga memberikan andil yang cukup besar untuk memulai. Kenapa kita sering menyuruh seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan karena pada dasarnya kita malas untuk memulai, hal ini banyak terjadi pada lingkungan sekolah, kepala sekolah memerintahkan guru, guru memerintah murid, begitu seterusnya pada instansi-instansi pemerintah lainnya.

Kurang dalam memberikan contoh, karena malas untuk memulai duluan, disebabkan kita kepala sekolahlah, kita pejabat ini dan itulah dan berbagai alasan lainnya. Padahal keberhasilan itu memulai dengan tindakan, bukan memulai dengan perintah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post